Tiga Wilayah Kesultanan, Satu Rumpun Adat
Setiap wilayah memiliki karakteristik bumbu, filosofi jamuan, dan tata cara adat yang berakar dari sejarah keraton masing-masing.
"Duduk Sama Rendah, Berdiri Sama Tinggi"
Saprahan berakar dari kata saprah yang bermakna berhampar. Tradisi santap bersama tanpa kursi dan meja ini menyatukan segenap lapisan masyarakat: para bangsawan dan rakyat jelata bersila bersama di atas hamparan kain putih atau beludru, menikmati hidangan dari satu nampan yang sama.
Susunan Piring Adat Saprahan
Dalam jamuan saprahan pernikahan adat, hidangan disusun secara tertib mengelilingi piring nasi di tengah:
-
1Lauk Utama (Gulai / Daging)Sajian penghormatan tertinggi dari tuan rumah kepada tamu.
-
2Lauk Pendamping (Paceri Nanas & Acar)Penyeimbang asam segar yang menyelaraskan rasa berlemak.
-
3Sayuran Tradisional (Dalca / Sayur Putih)Simbol peleburan dan gotong royong antar keluarga.
-
4Air Serbat & Cuci MulutRebusan kayu secang beraroma rempah dan aneka kue adat penutup.
Hidangan Adat Pilihan
Ragam sajian sakral dengan makna semiotik doa dan nilai budaya.
Bawa Piring Hidangan ke Meja Anda dengan Kamera Augmented Reality
Aplikasi mobile Gastronomi Kalbar AR memungkinkan Anda mengarahkan kamera ponsel ke marker buku atau meja fisik untuk memproyeksikan sajian 3D dengan skala 1:1, disertai pemutar narasi lisan adat Melayu yang imersif.
Unduh Langsung ke HP
Akses website ini dari peramban HP Anda untuk mengunduh dan memasang aplikasi secara langsung.