Tradisi Makan Besaprahan Melayu
Bukan sekadar perjamuan santap makan, melainkan puncak tata krama dan perekat tali silaturahmi masyarakat Melayu Kalimantan Barat yang mengedepankan kesetaraan dan keluhuran budi pekerti.
"Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi."
Tiada sekat kasta di atas hamparan kain saprah; semua bersaudara di hadapan Sang Pencipta.Hakikat Tradisi Besaprah
Kata saprahan berakar dari kata bahasa Melayu-Arab "saprah" yang bermakna berhampar atau bentangan kain. Dalam upacara daur hidup masyarakat Melayu — terutama kenduri pernikahan adat (walimatul 'ursy) — saprahan adalah tata cara makan bersama di mana sekelompok tamu (lazimnya 5 hingga 6 orang) duduk bersila melingkari hidangan yang disusun di atas selembar kain saprah.
Tradisi ini diwarisi secara turun-temurun di lingkungan Kesultanan Sambas, Kesultanan Kadriah Pontianak, hingga Keraton Amantubillah Mempawah. Pada tahun 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi menetapkan Saprahan Melayu Kota Pontianak sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-perayaan.
Empat Nilai Luhur Saprahan
Urutan Adab Jamuan Saprahan
Pelaksanaan saprahan mengikuti tata krama tertib yang sarat akan pesan penghormatan dan kesantunan Melayu:
1. Membentang Saprah
Kain putih atau kain tenun songket dihamparkan di atas lantai kayu belian atau karpet.
2. Bersila Berenam
Enam orang tamu duduk bersila saling berhadapan mengelilingi susunan hidangan secara seimbang.
3. Kobokan Berkeliling
Wadah air basuh tangan (ketur/kobokan) diedarkan mulai dari orang yang paling dituakan.
4. Doa Selamat
Jamuan diawali dengan basmalah bersama dan diakhiri dengan doa kesyukuran dan keselamatan.